Tuesday, May 5, 2015

suatu malam membaca Hamka;

bab halus perasaan: peribadi, hamka; hlmn. 187

beginilah sayang, entah seingat aku ada karya yang membuat jiwa aku seolah jadi begitu tenang dan terasuh, ada juga karya yang membuat jiwa aku jadi kabut dan merusuh. oh, tidakkah kau juga merenung dan merasa sedemikian?
 
hmm.

Monday, May 4, 2015

sebuah catatan di terminal, sepulang dari Marang;

bismillah
 
(i)

bersama Sofia, memeluk dingin Subuh di TBS
 
yakin dan jelas, aku tak mahu sesuatu yang terlalu ideal; sekurang-kurangnyanya itulah yang aku sempat belajar dan dapatkan dari kembara sesingkat ini.
 
sesuatu yang sempurna; harus sama tinggi, sama rendah. harus tepat incinya, sebagaimana teratur di pemula rencana, harus persis yang kita-kita ingin, begini dan begitu jadinya.
 
oh tidak, sayang!
 
bagaimana kalau sedari awal kita meletakkan ukuran, harus bagaimana pula kita bereaksi andai bengkok aturan-Nya di masa kejadian? apa mungkin kita bakal melewatinya dengan hati tenang bahagia seolah tiada cacatnya? apa mungkin kita 'kan saling meraikan hingga yang memandang kita terkagum senang?
 
ketidaksempurnaan itu entahkan mengapa, sedari dulu bagiku, ia indah! agar orang-orang yang 'kurang' turut merasa kebersamaan, bahawa dia hakikatnya tidak pernah sendiri; bahawa ada aku, bahawa ada 'kita' yang turut punya sisi lemah, kurang, cacat, bahkan terlalu jauh dari sempurna.

"your imperfections define you. it's how you handle them, that makes you human."

"why impress others with how 'perfect' your life is? instead, share with them how you cope with imperfections. that makes you more credible."

- mufti menk
 
(ii)
 
teruntuk kak syida kesayangan, (tskkkk) selamatlah dikau menjadi isteri!
 
ah, terlalu panjang untuk aku bingkiskan semua yang tidak sempurna tetapi tahukah engkau, dengan 'yakin' dan 'tenangmu' sahaja, semuanya telah cukup sempurna?
 
ini yang aku selalu percaya dari kecantikan seorang perempuan; hakikatnya terletak pada yakin dan tenangnya! ia bermula dari hatinya, yang membukit niat yang tulus dan mulus, hasil dari kebergantungan tawakal yang tinggi dan penuh.
 
demi Allah, sungguh-sungguh telah aku saksikannya sebermula permulaan hingga pengakhiran; moga Allah terus memberkahi perjalanan!
 
syukur dan terima kasih untuk semuanya.
 
ps: semoga berbahagia #tilljannah. jangan lupa minggu depan masuk kerja woi, harharhar :p
 

Wednesday, April 29, 2015

dan kita pun basah kehujanan (i);

kalau hubungan kita dengan manusia cacat; bersangka-sangka, kurang empati, lekas baran, ego dan bongkak, zalim menilai, merasa diri cuma yang benar, ketergesaan menghukum, sukar mengakur dan menunduk salah, jelaslah tiada ke mana harus kita berpatah. eloklah andai kita cuma diam sebentar, dan merenung cacatkah solat, lompongkah zikir, tenatkah tilawah, keringkah muhasabah hingga iman terus melopong sunyi, terdiam kaku tidak bersuara?
 
cuma itu, sayang.  

gombak pun hujan,
dan kita pun basah kehujanan.

T.T

Thursday, April 23, 2015

TONTON DULU, BACA KEMUDIAN.

bismillah

"words are but symbols for the relations of things to one another and to us; nowhere do they touch upon the absolute truth." - friedrich nietzsche


 
bismillah
 
"the relationship between words and their meaning is a fascinating one, and linguists have spent countless years deconstructing it, taking it apart letter by letter, and trying to figure out why there are so many feelings and ideas that we cannot even put words to, and that our languages cannot identify." - source

semisal menikmatkan perasaan aneh, sebaik menyudahkan bacaan al-Quran meski cuma sehalaman dua;
 
semisal perasaan menghidu dan menyedut hirupan pertama dari secawan kopi panas;
 
semisal perasaan menonton renik-renik hujan yang jatuh mengena kaca tingkap lalu terburai pecah;
 
semisal perasaan melambai anak kecil dari tingkap kereta, lalu dia mengalihkan pandangannya, kemudian menengok lagi kali kedua tanpa dia senyum walau secalit (haha! saya suka ini);
 
semisal mengenang memori sebaik tercium bau-bau yang kekal (bau kereta kak jannah, contohnya, ihiks);
 
semisal malam sudah lewat, mata sudah mahu pejam, tetapi akal tiba-tiba menjentik sesuatu untuk ditulis (ergh!);
 
semisal perasaan menunggu orang di sebelah sana typing tak sudah-sudah, kemudian satu perkataan pun tak tertimbul (lulz);
 
semisal perasaan menghembus nafas panjang sewaktu terbaca sesuatu yang benar-benar mengujakan hati;
 
semisal ketidaksabaran jemari menaipkan sesuatu dan mengekalkannya di sini, dan selebihnya anda sambunglah sendiri.
 
heh.
 

Tuesday, April 21, 2015

MENJADI ENGKAU DI MATA AKU.

bismillah
 
sederhana berjubah dan bertudung labuh, dengan beg tangan dijinjit di celah bahunya. ya, islamik pada mata saya. namun, bukan! bukan kerana pakaiannya yang berlabel islamik ini atau gerak lembut santun yang membuatkan saya jatuh suka pada dia saat pertama kali memandangnya.
 
jauh sekali.
 
satu personaliti yang paling mengkagumkan saya pada seorang perempuan adalah kemampuan dia untuk membuatkan orang tidak terlebih dulu memandang pada apa yang dia ada atau pakai, tapi terlebih pada pesona dirinya. jauh sekali kecantikan fizikal, tapi aura kebaikan. entah, sukar sekali untuk digambarkan tetapi saya suka apabila seseorang mampu menjadi dirinya sendiri, berdepan dengan prinsip dan keyakinan dia yang sebenar-benarnya. tidak kekok, tidak janggal, tidak risau bahkan tidak sesekali merasa kalah.
 
dia 'tenang' memberi sebolehnya apa yang dia ada, dia 'tenang' mempamer sejuta kelemahan yang dia punya, dia 'tenang' berhadapan dengan orang-orang yang mungkin berbeza dari dirinya. ah, ringkasnya dia hanya 'tenang' menjadi dirinya.
 
saya selalu percaya, orang yang 'tenang' dengan dirinya adalah orang yang tidak melabel, menilai atau meletakkan dirinya pada apa-apa yang stagnan. misalnya, harta/wang ringgit, set kosmetik dan kecantikan, fesyen/pakaian berjenama, tahap pendidikan atau apa-apa yang ada di sekelilingnya untuk mewujudkan yakin. cukuplah, perawakannya sahaja membuatkan orang sekeliling merasakan dia ada dan punya sesuatu. ya, dia barangkali punya ini atau itu yang bersifat material, namun bukan itu yang menjadi nilai atau ukuran pertama pada dirinya.

dan saya tak ternampak apa-apa melainkan satu; taqwa. taqwa yang membuatkan dia cukup merendah hati, namun masih 'mengangkat' dirinya 'tinggi' atau merasa 'izzah di depan sejuta manusia, kerana Allah yang menciptakannya, Maha Tinggi! dengan Allah cuma, dia 'mencukupkan' dirinya. harga diri yang 'tinggi' ini, tidak tertakluk pada apa-apa yang bersifat duniawi, tetapi akidah, ibadah dan akhlaknya yang rabbani, hingga pancaran taqwalah yang benar-benar menonjolkan pesonanya!
 
memetik semula kata kak izzah;

"MAKIN MENDEWASA, MEREKA INI CANTIK; CANTIK DENGAN KEMATANGAN, PENGALAMAN, KEBIJAKAN DAN KEYAKINAN PENAMPILAN!"

noktah! dan 'kecantikan' itulah yang sebenar-benarnya ternampak pada mata saya. sebegitulah mungkin selayaknya imam syafie pernah menuturkan, "aku mencintai orang soleh meskipun aku bukan seperti mereka. semoga kelak aku mendapatkan syafaat dari mereka."
 
oh Allah, benihkanlah taqwa dalam diri aku, dan jadikanlah aku sebahagian daripada mereka!