Thursday, July 2, 2015

"AWAK ADA TUJUH MINIT?"

bismillah

(i)
 
sedang sibuk bersiap-siap ke ofis, dia cuma memohon tujuh minit daripada saya untuk sejenak menonton ini dan katanya, ini adalah jawapan kepada; "kenapa saya membaca Eat, Pray & Love?"
 
padahal, ada berlambak buku-buku lain yang kononnya lebih bersifat 'maskulin' (lulz).

selain aura dan yakin tersendiri yang menampakkan jelitanya seorang Elizabeth ini, aduhai kawan (entahlah), dengan tidak tertahan-tahan, saya cukup sebak di babak ini;
 
 

"so for almost six years, every single day, i had nothing but rejection letters waiting for me in my mailbox. and it was devastating every single time, and every single time, i had to ask myself if i should just quit while i was behind and give up and spare myself this pain. but then i would find my resolve, and always in the same way, by saying, "I'M NOT GOING TO QUIT. I'M GOING HOME."
and you have to understand that for me, GOING HOME did not mean returning to my family's farm. for me, going home meant returning to the work of writing because writing was my home, because i loved writing more than i hated failing at writing, which is to say that i loved writing more than i loved my own ego, which is ultimately to say that i loved writing more than i loved myself."
 
awhhhhh, definisinya tentang 'writing' begitu bulat dan padu! kata-kata apa lagi yang paling benar untuk menidakkan ini?
 
tuntas, menulis selalu memberikan saya rasa-rasa bebas. sebagaimana yang pernah saya katakan, (malah berkali-kali pun) dalam entri-entri yang lalu, menulis seringkali membuatkan saya merasakan ada. 'menulis' benar-benar mengajarkan saya memiliki emosi dan perasaan saya sendiri, meski berulang kali pun saya menafikan. teruntuk saya, hak saya, milik saya, kepunyaan saya, abadi; tidak tersentuh oleh apa-apa atau siapa-siapa pun, dan kesemuanya dari -Dia, tentunya. dengan itulah hakikatnya, saya lebih bebas!
 
inilah mungkin yang Elizabeth Gilbert definisikan sebagai 'HOME'; suatu kata yang tepat untuk mendefinisikan 'tempat kembali' demi menemukan dan menjumpakan diri semula, bila-bila dan di mana-mana sekalipun.
 
fuhs!
 
 
 (ii)
 
"kamu pasti bosan mengobrol dengan seorang yang hidupnya stagnan, dingin dan tidak dinamis. para pencinta sejati menemukan gairah kehidupan dari perubahan-perubahan dinamis dalam kehidupan kekasih mereka. seperti gairah kehidupan yang dirasakan seorang ibu ketika ia menyaksikan bayinya tumbuh dan berkembang menjadi anak remaja lalu dewasa. atau gairah yang dirasakan seorang guru saat menyaksikan muridnya tumbuh menjadi ilmuwan dan intelektual."  
- anis matta, serial cinta
 
kalau sebegitu 'berbunga' perasaannya, saat sesekali 'mereset' semula rutin harian yang sama dan berulang dengan sesuatu yang 'lain' dan 'baru', agaknya sebagaimana apa indahnya, jika qiyam, siyam, tilawah, terawih, dan lain-lain juga 'dihidupkan' semula momentum-momentumnya?
 
ah, ini sememangnya sungguh-sungguh sukar!

"you've heard of the mid-Ramadan slump. how do you overcome that?"

"i get it too! everybody gets it. we're human! you get a slump, you're at something and it beats you up…you can have a day or two that are down, we're human beings, not machines. but the point is to pick yourself up."

 - ust nouman ali khan
 
 
hmm hmm?

Tuesday, June 30, 2015

suatu malam mencuribaca Eat, Pray & Love;

bismillah
 
ah, lama sudah saya tidak menulis. padahal, sejujurnya berkali-kali saya cuba menulis. bahkan, ada beberapa entri yang saya drafkan, terbiar.
 
hakikatnya, saya tidak mahu terlalu lantang bercerita tentang dunia rumahtangga saya sendiri, namun bagaimana untuk seorang penulis yang sebelum ini, sudah terbiasa menuliskan perihal hidupnya; teman serumah, seofis, orang-orang yang ditemukan di jalan, bahkan hal-hal kerjayanya atau apa-apa episod hidup yang paling termaknakan di hatinya?
 
saya tahu saya wajar mengehadkan, dan saya sedang belajar meminimakan. ah, pergelutan dalaman selalu terkait hal-hal ini. cubalah terangkan kepada saya, bagaimana untuk saya menafikan kuot ini?

"if you're dating marrying a writer and they don't write about you — whether it's good or bad — then they don't love you. they just don't. writers fall in love with the people we find inspiring."
 
cubalah katakan, bagaimana untuk saya tidak menuliskan tentang seseorang yang cukup menginspirasikan? ergh, ampun untuk semua keterlanjuran.
 
(i)
 
serasa saya, berkali-kali saya katakan pada dia, saya ini perempuan kompleks, -terlalu. saya struggle untuk memahami diri saya sendiri, apatah lagi untuk memahamkan orang lain tentang seorang saya. definisinya penuh, tetapi tidak satu pun terjelaskan. saya tidak mampu menjelaskan saya seperti apa dengan kata yang paling tepat. saya tidak mahir menghuraikan perasaan dan emosi saya sendiri. saya cuma tahu, saat-saatnya fikiran saya sedang ribut, dan hati saya sedang banjir!
 
meski Umi Walid dulu pun harus mengandaikan atau mengandalkan, dan orang-orang terdekat harus lama meneka-neki. saya sendiri keliru dan kabur; saya boleh menjadi matahari, saya boleh menjadi bulan, saya boleh menjadi terang, saya boleh menjadi teduh, dan ya, sesekali, -hujan. ah, saya setuju sungguh-sungguh dengan kenyataan Stephen King yang satu ini;

"QUIET PEOPLE HAVE THE LOUDEST MINDS."

serius!
 
entah, dan tersedar saya akan satu hakikat bahawa Allah akan selalu memilih dan menghantar orang yang tepat dalam satu-satu kurniaan-Nya. dia tahu apa yang paling kita perlu dalam hidup. untuk kehadiran orang yang paling asing dalam hidup, nyatanya bimbang saya makin reda, ragu saya makin hilang, dan syukur saya melangit untuk hal yang satu ini! dia tidak pernah sesekali mendesak bertanya, jika saya tiba-tiba 'harus' menangis bila-bila masa. jangankan sensitif yang ini, mendatangkan sikap bersangka-sangka atau menduga-duga, "ah, kroniknya seorang perempuan!"

walaupun diumpamakannya kami seperti belut (eeeeeee!), namun saya tidak mampu menafikan kejujuran WS Rendra yang satu ini; 

"perempuan bagai belut, meski telah kau kenali segala lekuk liku tubuhnya, sukmanya selalu luput dari genggaman."
 
membelek-belek buku bacaannya, saya tertarik pada apa yang digariskan;


eat, pray, love; pg. 115

meski pada hemat saya; khususnya lelaki, bukankah dia akan selalu mendahulu dalam hal-hal yang rasional? bukankah dia terlalu berkehendak pada logik dan sebab? namun, suatu hal yang terhormat bagi saya, jika seorang lelaki tidak menanggapkan emosi perempuan adalah hal yang mudah dan remeh (walaupun ya, saya akui juga tahap annoyingnya itu, haha).
 
oh Tuhan, ini benar-benar menenangkan; kekalkanlah sabar dan tenang yang satu ini, sampai bila-bila!
 
 
(ii)

kita tidak akan mampu mencintai orang lain dengan sebebasnya, jika kita tidak terlebih dulu sepenuhnya menerima dan mencintai diri sendiri. ini juga masih menjadi antara struggle saya, hinggalah suatu hari dia berkongsi kuot dari buku yang sama;


eat, pray & love; pg. 19

cinta jenis ini, sama ada kita mencipta 'watak' dia mengikut kehendak kita, lalu kita kecewa atau kita mencipta 'watak' kita mengikut kehendak kita (tapi kononnya dengan kaca mata dia).

ergh, deep!

teruntuk saya dalam hal apa sekalipun, usahlah mengandai-andaikan peribadi orang lain sebegini dan sebegitu, hingga ia menyekat diri daripada menjadi diri sendiri, hmm.

 
(iii)
 
pernah suatu hari yang lain, dia mengingatkan saya semula tentang kata-kata yang pernah saya 'keramatkan' di dalam tulisan-tulisan saya, suatu masa dahulu;.
 
"cinta sama ada akan menghilangkan diri kita atau menemukan siapa kita."

hmm.
 
tahukah anda, satu hal yang tidak sesekali saya sesal, malah syukur ialah menuliskan kesemua 'ekspektasi' dan 'idea' saya tentang cinta dan perkahwinan sebelum bernikah. sesekali, membaca semula tulisan-tulisan saya yang lepas ini, seolah-olah kembali mengingatkan dan menyedarkan seorang saya; apa yang saya 'pernah' mahu? bagaimana figur seorang isteri yang 'pernah' saya ingin jadi? juga hal-hal lain yang pernah tercatat.

ya, ada yang benar, ada yang salah. ada yang tepat, ada yang meleset sama sekali. baik ya atau tidak, ia benar-benar memperbetul dan membuka dimensi yang baru. sungguh, saya benar-benar 'rasa' terdidik, meski cuma untuk tempoh pernikahan yang tidak sampai sepekan.
 
BOHONG!  untuk sesiapa yang berkata, cinta/perkahwinan tidak akan 'menghilangkan' dirinya walau sedikit. dominannya, sedikit sebanyak kami telah sama-sama bersetuju bahawa perkahwinan sememangnya 'kerap' mencuri masa-masa peribadi. impaknya, dia tidak boleh sewenang-wenangnya 'membaca' seperti kebiasaannya di masa bujang. malah saya sendiri akur, diri sendiri juga mengalami fasa-fasa perubahan sebegini.  
 
entah, walau sedaya apapun saya cuba mengawalnya, pendek kata ia sememangnya berbeza! tahu dan fahamlah saya akan kewajaran bagi kebanyakan perempuan yang sudah menikah, apabila dia makin kurang menulis. tidak lain, masa peribadinya telah berkurang, maka masa kontemplasinya turut berkurang, dan akhirnya berkuranglah masa untuk dia menulis dan menuntaskan kesemuanya dengan bebas! hatinya mulai didominasi dengan tuntutan lain yang lebih terjelas di depan mata, hingga kabur dan hilang semua rasa-rasa tadi! lalu akhirnya, mati tidak terbuku. (ah, mungkinlah saya seorang sahaja yang begini)

ah, fasa adaptasi memang begini, mungkin? sebelum kita benar-benar cekap mengendalikan semua hal dalam satu masa, termasuklah mengisi kesenggangan yang tidak terduga, dengan hal-hal yang kita suka.
 
cumanya, dia akan menemukan sisi saya yang lain. kalau dulu, dia tahu saya menulis, kenapa kini tidak pernah ternampak lagi? bahkan saya juga akan menemukan sisi dia yang lain. kalau dulu, saya tahu dia membaca, kenapa kini jarang-jarang sekali? malah, hal-hal lain juga yang pernah menjadi minat dan hobi kita di masa dulu. kita akan sama-sama tenggelam sekejap dalam tempoh adaptasi yang ini, hingga hilanglah sebab awal yang menjadi daya-daya penarik dan istimewa di awal perkenalan. kenapa kita mula terlihat membosankan dengan hidup yang stagnan dan kosong sesudah bernikah? lebih buruk lagi, jika masing-masing mulai menyangka bahawa keduanya seolah-olah tertipu dengan watak, peribadi dan minat yang sebenar.
 
ah, fasa adaptasi memang begini, mungkin? fasa mengenal diri sendiri dan pasangan, mengoreksinya dan menemukan solusi bersama. ah, wajarlah betapa penting kita mengenal diri sedalam-dalamnya sebelum bernikah, supaya kita lebih jelas dan maklum, serta mampu mengesan 'perubahan' diri yang bakal terjadi sesudah bernikah.
 
saya suka apabila kita mampu berbicara dan berbincang dengan cukup terbuka, macam kata Elizabeth, penulis buku yang awak sedang baca ini;


eat, pray and love; pg. 12

oh Tuhan, ini benar-benar menenangkan, terima kasih!
 
 
 
 

Tuesday, June 16, 2015

berlari dari Utara untuk menemukan si dia di Selatan;

bismillah
 
(i)
 
hingga ke hari ini, tiada soalan daripada Walid yang paling menggugah hati, selain pertanyaan di suatu hari;

"Walid tetapkan mas kahwin sekian dan sekian. dia mampu?"
 
entah, saat itu saya baru tersedar akan hakikat, saya telah membesar sebagai anak perempuannya yang sudah dewasa. tiada yang paling membahagiakan bagi saya, apabila Walid sudi bertanyakan dan meraikan pendapat anak gadisnya terlebih dahulu, terkait hal terbesar dalam hidupnya.
 
sungguh, saya tidak akan pernah sesekali lupa.
 
(ii)
 
06062015 | pongsu seribu

pertama kali kami bertemu di PPAS (Perbadanan Perpustakaan Awam Shah Alam), dalam suasana teduh di bulan April. ah, tepatlah persis bilang Murakami, "On Seeing The 100% Perfect Girl Guy One Beautiful April Morning."
 
oh tidak!

saya mungkin lebih suka dengan kata-kata Prof Kopanski suatu hari di kelas bagi subjek Modern Europe; "i found her (read: my wife) in the library. library always gave me the finest things."
 
nah, bukan.

tagline Jane Eyre pada saya lebih tuntas untuk menyimpulkan tentangnya dalam Charlotte Bronte, "reader, I married him!"
 
untuk setiap satunya, cukuplah hanya Allah sahaja yang tahu, sebelum suatu hari nanti saya pasti kembali menuliskan 'How I Met Your Father' versi Melayu sebagai warisan, hmm.
 
(iii)
 
melalui tempoh yang baru menjejak minggu kedua, tiada yang paling saya mohonkan melainkan dua hal cuma; ilham dan barakah dari Allah.
 
ilham dari Allah untuk saya berhasil menunaikan segala hak dan kewajipan yang tidak pernah saya tahu dan lalui. apa, bagaimana, di mana, dan kesemuanya yang seharusnya ada dalam kehidupan berumahtangga. sungguh, teori yang dibaca dari buku-buku jauh berbeda dari medan-medan amal. adakala, saya sendiri bingung dan keliru dalam memprioritikan itu dan ini.
 
keduanya, -barakah. saya sungguh-sungguh percaya, dengan barakah dari Allah sahajalah, semua yang berat akan jadi ringan, yang susah akan mudah, yang kurang akan penuh, dan yang sempit akan luas.
 
dan untuk keduanya, saya cuma perlu mohon sesungguhnya cinta dari Allah; untuk mencintai-Nya dan untuk dicintai-Nya, dan meletakkan Dia di kedudukan yang tertinggi dalam setiap urusan. untuk ini, ternyata saya sememangnya masih terbata-bata.
 
(iv)
 
hari-hari terakhir menyiapkan persiapan walimah adalah hari-hari yang agak emosional bagi saya.
 
lama, saya memeluk Kak Jannah di hari terakhir kami bertemu sebelum saya bergelar isteri. bukan, ia bukan bermakna sebuah perpisahan panjang. nyatanya, saya tersedar bahawa kehidupan saya sesudah itu akan ada bedanya, - pasti.
 
ah, fasa-fasa baru selalu menjadi kesukaran terbesar bagi saya. persis sebagaimana saat saya baru menginjak ke alam pekerjaan sesudah bergraduasi. proses mengadaptasi, selalunya menuntut tempoh yang panjang untuk saya benar-benar bersedia. namun syukur, Allah Maha Baik dalam mengatur segala urusan-Nya!
 
(v)
 
masih terlalu awal untuk saya tuliskan kesemuanya, namun cukuplah satu hal saja; saya masih mahu menjadi saya. saya yang lebih baik, dengan izin-Nya. malah, saya cukup yakin, dengan segala kelebihan dan kebaikan yang ada pada dirinya, kekurangan dan kecacatan saya akan selalu tertampung.
 
 
the kindness miracle, jamilah samian
 
saya juga sedang belajar untuk tidak meletakkan apa-apa ekspektasi, bahkan bersedia mendahulukan segala ketidaksempurnaan, untuk saya lebih menghargai apa-apa yang lebih berbanding apa-apa yang kurang. ini lebih manusiawi bagi saya.
 
bukankah jalur hidup seseorang yang ini dengan seseorang yang lain adalah berbeza? kita sebenarnya berbahagia dengan cara dan sebab yang berbeza, dan saya percaya jalur dan takdir yang Allah telah tetapkan untuk saya ini, memang telah lengkap, sempurna dan cocok untuk seorang saya!
 
saya terlalu menagihkan iringan doa dan sokongan kalian untuk saya menjalani fasa ini dengan baik dan lebih baik. terima kasih untuk semuanya!
 
sekian, sebuah cantuman tulisan, khas teruntuk orang-orang yang menagihnya. juga untuk saya kembali mengenangnya di masa-masa terkedepan.

doakan saya kekal menjadi perempuan yang menulis, dan terus menulis!
 
 

Tuesday, May 5, 2015

suatu malam membaca Hamka;

bab halus perasaan: peribadi, hamka; hlmn. 187

beginilah sayang, entah seingat aku ada karya yang membuat jiwa aku seolah jadi begitu tenang dan terasuh, ada juga karya yang membuat jiwa aku jadi kabut dan merusuh. oh, tidakkah kau juga merenung dan merasa sedemikian?
 
hmm.

Monday, May 4, 2015

sebuah catatan di terminal, sepulang dari Marang;

bismillah
 
(i)

bersama Sofia, memeluk dingin Subuh di TBS
 
yakin dan jelas, aku tak mahu sesuatu yang terlalu ideal; sekurang-kurangnyanya itulah yang aku sempat belajar dan dapatkan dari kembara sesingkat ini.
 
sesuatu yang sempurna; harus sama tinggi, sama rendah. harus tepat incinya, sebagaimana teratur di pemula rencana, harus persis yang kita-kita ingin, begini dan begitu jadinya.
 
oh tidak, sayang!
 
bagaimana kalau sedari awal kita meletakkan ukuran, harus bagaimana pula kita bereaksi andai bengkok aturan-Nya di masa kejadian? apa mungkin kita bakal melewatinya dengan hati tenang bahagia seolah tiada cacatnya? apa mungkin kita 'kan saling meraikan hingga yang memandang kita terkagum senang?
 
ketidaksempurnaan itu entahkan mengapa, sedari dulu bagiku, ia indah! agar orang-orang yang 'kurang' turut merasa kebersamaan, bahawa dia hakikatnya tidak pernah sendiri; bahawa ada aku, bahawa ada 'kita' yang turut punya sisi lemah, kurang, cacat, bahkan terlalu jauh dari sempurna.

"your imperfections define you. it's how you handle them, that makes you human."

"why impress others with how 'perfect' your life is? instead, share with them how you cope with imperfections. that makes you more credible."

- mufti menk
 
(ii)
 
teruntuk kak syida kesayangan, (tskkkk) selamatlah dikau menjadi isteri!
 
ah, terlalu panjang untuk aku bingkiskan semua yang tidak sempurna tetapi tahukah engkau, dengan 'yakin' dan 'tenangmu' sahaja, semuanya telah cukup sempurna?
 
ini yang aku selalu percaya dari kecantikan seorang perempuan; hakikatnya terletak pada yakin dan tenangnya! ia bermula dari hatinya, yang membukit niat yang tulus dan mulus, hasil dari kebergantungan tawakal yang tinggi dan penuh.
 
demi Allah, sungguh-sungguh telah aku saksikannya sebermula permulaan hingga pengakhiran; moga Allah terus memberkahi perjalanan!
 
syukur dan terima kasih untuk semuanya.
 
ps: semoga berbahagia #tilljannah. jangan lupa minggu depan masuk kerja woi, harharhar :p