Friday, August 21, 2015

antara hal-hal 'mencuba' untuk 'menjadi';

bismillah
 
"write what disturbs you, what you fear, what you have not been willing to speak about. be willing to be split open."

- natalie goldberg
 
saya tidak tahu dari mana harus saya menulis, dengan cerita apa dan bagaimana. nah, fikiran-fikiran kusut yang terbelenggu hinggalah diluruskan semula;


i.

saya percaya bahawa 'amal' punya suara tersendiri. kita tidak akan mampu 'bercakap', kalau tidak terlebih dahulu berbuat. ia bagai tersekat, bahkan terseksa dalam batin sendiri. sekurang-kurangnya, itulah yang saya belajar dari 'struggle harian' hati saya sendiri, bahawa mampukanlah diri berbuat terlebih dahulu untuk 'bercakap' sebebasnya. 
 
malah, kita tidak perlu tunggu; ia akan bersuara sendiri meski tanpa kita menyediakan mulut. namun jika cuma mampu setapak, perlahan-lahanlah berjalan, asalkan tidak berhenti daripada terus usaha berbuat!
 

 ii.
 
kita selalu belajar dari kelebihan dan kekurangan orang lain. melihatkan orang lain, bagaikan tertayang satu demi satu lemah kuat, terpeta aib dan masalah yang ada dalam diri kita sendiri. sungguh!
 
bahawa aku ini begini dan begitu, maka aku perlu menjadi seperti begini dan begitu agar lebih baik di masa hadapan. satu hal yang terpenting dalam proses pembelajaran ini, 'struggle harian' terbesar bagi saya, bukanlah ketidaksanggupan orang lain untuk bersabar dengan keterlambatan saya, tetapi terlebih;
 
"APAKAH SAYA SANGGUP 'BERSABAR' DENGAN 'KESABARAN' ORANG LAIN TERHADAP SAYA?"

 
bukankah adakalanya, kita sahaja yang tidak sanggup melihat orang lain terlalu 'sabar' dengan kita? hmm.
 
iii.
 
"if I ever let you down, it's not because I don't love you. it's because I don't love myself."
 
mungkin sebab itulah, dulu saya pernah menuliskan begini; "kita tidak akan mampu mencintai orang lain dengan sebebasnya, jika kita tidak terlebih dulu sepenuhnya menerima dan mencintai diri sendiri", dan sebab itulah mungkin terwujud kepercayaan dalam diri saya sendiri bahawa orang yang 'cukup' sahaja yang akan selalu mampu 'mencukupkan'.
 
 
 
 
maka belajarlah untuk mencintai, meski sekurang-kurangnya harus belajar mencintai diri sendiri.
 
iv.
 
saya 'adore' dengan ketidaksempurnaan orang lain, tetapi mampu 'menampakkan' kesempurnaannya. semisal esok mesti hantarkan resume lengkap bergambar passport? nah, apa susah? kita boleh fotokan gambar sendiri, bukan? semisal membeli jeans labuh dan hari ini mahu segera dipakai? nah, apa susah? kita boleh terus gunting sendiri, lipat dan iron untuk sementara bukan? semisal hari ini tidak punya apa-apa untuk sarapan? nah, apa susah? kita masih ada roti, bukan? bakar, sapu marjerin, dan letaklah gula.
 
"jika di saat itu, kita cuma mampu 'membumi', usahlah terlalu 'melangit'," demikian begitulah seseorang pernah berpesan kepada saya.
 
v.
 
ah, saya suka perwatakan Jane Hawking yang satu ini. seseorang yang belajar seni dan sastera bahkan hidup dalam dunia 'emosi', tetapi harus belajar untuk bersinergi dalam intelektualiti seorang ahli fizik, Stephen Hawking.
 
serius, saya suka!
 
"i had been taught from an early age to use the language precisely, with appreciation for its clarity and its richness..."
travelling to infinity, pg. 80



maka, marilah kita (saya) menjadi lebih berani untuk menemukan antara hal-hal yang baru dalam hidup. siapa tahu, boleh jadi itulah 'passion' yang dicari-cari? paling penting;
 
JANGAN TAKUT UNTUK MENCUBA.
 
sekianlah, hal-hal mudah yang begitu sukar (err takut?) untuk ditulis, hmm.
 

Wednesday, July 29, 2015

di suatu hari menikmati Wall's Selection Oreo;

bismillah



(i)

manisnya menonton The Lunchbox sambil menjilat Wall's Selection Oreo bersama orang-orang yang kita suka!


 
 
bagi saya, filem ini keseluruhannya seputar pemaknaan hidup, memotret dua jalur hidup yang berbeza, Saajan dan Ila. namun hari ini, sewaktu menuliskan ini, saya teringat-ingatkan semula komentar pendek *Faaizz (baca nota kaki) tentang filem ini sebelum kami menonton;
 
"cerita ni slow sikit. pasal midlife crisis. people change!"
 
spesifiknya, (MARRIAGE) AND MIDLIFE CRISIS. jangan tidak tersedar dengan hakikat bahawa di usia 55 tahun juga, si suami boleh sanggup menceraikan isteri meski sudah bertahun-tahun mengharungi asam garam hidup bersama, hmm.
 
apapun, saya paling suka babak pemergian ayah Ila, sewaktu ibunya tenggelam dalam perasaannya sendiri; "i was always worried, of what would happen to me when he passed away. he was so unwell lately."


 
 
ironinya, tak ada yang dia minta dari anak perempuannya ini, melainkan satu; dia lapar dan mahukan roti prata. oh please, di waktu segenting ini, di hari pengkebumian?

"but now, i just feel hungry.

i never loved him.

maybe in the beginning i did, when you were born. for many years now, twenty five years i think, i have not loved him. but i made breakfast for him, every morning. lunch. dinner. breakfast. lunch, dinner."
 
entah, saya rasa babak ini paling sukses membuatkan saya bersoal jawab dengan diri sendiri; adakah kita juga bakal rasa jemu, bosan dan kosong? adakah kita juga akan melalui fasa yang sama dengan cara yang sama? apakah definisi 'cinta' pada kita kekal, untuk masa terkebelakang, saat ini dan masa depan? 
 
atau kita macam Ila, macam Saajan, atau kita nanti seperti ibu Ila yang cuma rasa lapar? bezanya bukan prata yang kita inginkan, tetapi kita lebih mengidam Nasi Ayam Penyet dan Wall's Selection Oreo, hmm.

"yang harus kau belajar adalah bagaimana mencintai. bukan bagaimana untuk dicintai."  
- risalah cinta, khalil gibran


(ii)

saya bukan jenis orang yang ekspresif. maka, ekspresi wajah, lintasan hati, huruf/perkataan dan diam adalah 'suara' saya yang sebenar-benarnya. serius, susah menjadi orang yang tidak pandai mempamer perasaan ini, woi. alexithymia sungguh!

tiga hari lepas, jujurnya saya tahan diri daripada menulis. 'bisu' rasanya bila tak menulis, pandangan/perspektif dan harapan pun mati; tak jelas dengan apa yang saya fikir, tak tahu apa yang saya rasa. dengan menulis jugalah, saya mencintai dan menghargai. ah, besarnya pekerjaan 'menulis' pada seorang saya! dengan cara itu sahajalah saya mendengar dan memperdengarkan 'suara' hati sendiri. sobs, miskinnya!

sayakah yang prejudis dan skeptis terhadap diri saya sendiri, dengan menimbulkan tanggapan dan persepsi yang kotor dan negatif? entah mengapa, saya cuba untuk menemukan diri yang hanya bercerita seputar hal-hal lain selain rumahtangga. apa buruk sangatkah bercerita tentang ini atau saya sahaja yang terlalu pesimis? bayangkan seseorang yang sejak dulu bercerita tentang hal-hal seputar dirinya cuma, lalu bagaimana dia kini untuk tidak bercerita tentang hal-hal yang sama? maka menuliskan hal-hal lain dan bukan tentang diri sendiri, membuatkan saya rasa 'jauh' dan tulisan saya 'kosong'.

jadi, saya memilih untuk jadi diri saya sahaja; menuliskan tentang saya seperti selalunya. ah, sebetulnya siapapun yang menghalang, kalau bukan diri sendiri? ergh!

"lontarkan
...kalau tidak ia meracun
kongsikan
...walau hanya pada awan-awan"
- hlovate 


(iii)

saya rasa saya terlalu perfectionist untuk hal-hal tertentu yang saya sahaja yang tahu. hinggakan saya cenderung sedih apabila tidak dapat mengerjakan sesuatu seperti yang dirancang, atau putus asa dan kecewa apabila ekspektasi saya tersasar. anehnya, saya boleh pula berdamai dengan kelemahan dan kekurangan orang lain, tetapi tidak dengan kelemahan dan kekurangan diri sendiri. pendek kata, saya akan cepat rasa down, fuh (walaupun) sesetengah orang merasakan saya cool dan tenang sahaja, hmm (lagi).

kesannya, saya akan buat sesuatu pekerjaan sekerat jalan, atau ubah keputusan tiba-tiba atau elak cabaran baru dan adalah perbuatan-perbuatan lain yang tidak senonoh dilakukan. hinggalah suatu hari, sewaktu memberitahu tentang sesuatu (entah apa isunya) kepada Faaizz, dia cuma bertanya;

"awak tahu 'wife perception' tak?"
"tak."
"laaa, tak tahu?"

cis, geramnya saya pada waktu ini.

sesudah itu, dia tenang dan diam sahaja tanpa berkata atau menjawab apa-apa. saya diam juga, tapi diam-jenis-jari-kalut-google 'wife perception' yang dimaksudkan, dan saya terjumpa ini;




oh?

"kalau selalu hidup dengan persepsi dan ekspekstasi yang melangit, hingga ke sudah kita tidak akan pernah reti untuk menikmati dan bergembira."

sekurang-kurangnya, itulah 'take-home-message' yang saya beritahu diri saya sendiri berulang-ulang kali, (masih) hingga ke hari ini pun!

"smile, be happy, it's contagious. there's nothing that spreads faster than happiness." - michael daaboul

(iv)

"i think we forget things if we have no one to tell them to." - saajan, the lunchbox
 
 
tegurlah saya apa sahaja kawan, baik diam ataupun berontak saya, pastinya selalunya mengiyakan. ada masanya, bukan di waktu itu, tetapi rasionaliti dan kesedaran saya termuncul di waktu-waktu lain.
 
saya juga pernah terbaca satu quotes lain yang berkait, "if you keep reminding your heart about Allah, there will come a time when your heart will remind you of Allah."
 
sejujur itu mungkin, lintasan hati selalu mengingatkan gerak yang tersasar, amalan yang tertinggal, muhasabah yang terkurang dan sebagainya, hingga semuanya menjadi lurus dan elok semula.   
 
untuk struggle hari-hari yang adakala kita tewas dan adakala kita menang, mungkin itulah sebabnya saya sangat suka doa ini. pada saya, ia cukup-cukup manusiawi dan sebegitu hampir dengan fitrah! ajaran doa Rasulullah yang ini, bukan sahaja meraikan kelemahan, bahkan menawarkan harapan teruntuk hamba yang jatuh bangun dalam pengabdian (macam saya), hmm.
 
allahhumma a'inni 'ala zikrika wa syukrika, wa busni 'ibadaatik.

ya Allah, bantulah aku untuk mengingati-Mu, mensyukuri-Mu, dan beribadah dengan paling baik kepada-Mu.

________
nota kaki
*sebab akan berulang entri terkedepan:

(Faaizz) : nama suami. takkan sebut Encik Suami/Zauji (kot). belum apa-apa, jenuh dia (eeeeeeeeeee)-kan saya dulu nanti. sebut nama sajalah, sekurang-kurangnya bermaksud. spesifiknya, Amirul Faaizz (pemimpin yang berjaya), hiks.
 

Thursday, July 23, 2015

tentang Perempuan dan hal-hal lain;

bismillah
 
saya pernah dahulu berangan-angan mahu menuliskan buku bertajuk Perempuan. entah, pertama-tamanya mungkin saya terlalu gemar akan perkataannya. kedua, itu subjek yang termudah untuk saya tulis sebab terdekat dan terhampir dengan jiwa. itulah satu-satunya hal yang paling saya mahir pun, berbanding hal-hal yang besar semisal politik dan ekonomi.
 
cita-cita ini malah saya pernah kongsikan dengan Tiya, merangkap 'circle' saya yang sama-sama kompleks; berlagak cool, cukup reserved dan 'bajet' deep (haha!). dia memang kerapkali mengingatkan saya tentang buku bertajuk 'Perempuan' yang belum wujud ini pun, saat-saat perbualan 'deep' kami menerusi Whatsapp.
 
"umy tulislah buku. umy tulislah buku. umy tulislah buku pasal perempuan kompleks"

hah, begitulah seorang Tiya yang saya rindui, hiks.
 
kebelakangan, perkataan 'Perempuan' ini termuncul sekali lagi. kali ini, bukan Tiya yang ingatkan, sebab Tiya kini sudah bergelar Mak Ngah dengan kemunculan anak saudara yang comel bernama Amnan. alahai, sebut sahaja namanya sudah halus kedengaran.
 
kali ini, dia pula yang mengingatkan saya di suatu hari apabila topik 'Perempuan' dibual-bualkan semula. entah, tahu-tahu sahaja dia menggunakan perkataan yang saya gemar ini dalam satu emel, demi membalas emel panjang saya setahun yang lalu; termuat tentang saya (harapan, kelemahan, kekurangan dan sebagainya). pendek kata, keseluruhannya tentang saya yang saya mahu dia tahu dan saya rasa dia perlu tahu.
 
sebahagian daripada perenggan balasnya tertulis ini;  

"sewaktu di awal taaruf dulu, sebelum mengambil keputusan ini, saya tersedar bahawa sebuah definisi tentang perempuan telah saya jumpai dalam setiap perkongsian awak selama ini. terima kasih kerana menulis sejak 6 tahun yang lepas."  
(10 September 2014)
 
maka, di suatu hari saya bertanyakan dia semula tentang 'definisi' perempuan yang pernah dia maksudkan dalam emel yang dulu. kalau dulu, jangankan berani bertanya, ber-whatsapp pun guna bahasa melayu tinggi, hmm.
 
selama tempoh ini, ada dua definisi yang saya (baru) temukan. saya mahu mulakan dengan definisi yang kedua; saya baru tahu bahawa dia pernah sungguh-sungguh mendoakan bakal menemukan perempuan yang tidak gemar langsung akan kpop. ah, kau akan ketawa mendengarkan alasan-alasan di sebalik penyataan ini, dan cukuplah didiamkan sahaja oleh perempuan yang telah sukses ditemukannya itu, hmm.
 
penyataaannya yang pertama inilah terpaling unik dan janggal sekali kedengaran, dan saya sungguh-sungguh jatuh cinta mendengarkan ini. dia ingin sungguh perempuan yang sebetulnya memahami perempuan, kerana dia tidak pernah sesekali mengenal figur dan jelas tentang sifat bahkan naluri perempuan.
 
ah, teruntuk seorang jaka yang tidak pernah tertonjol sisi halusnya sebelum ini, jenis yang pada pandangan saya tampak slumber, cool dan rileks saja, (entah) saya merasakan takrifan ini sungguh luar biasa dan mendewasa! sekurang-kurangnya itulah perasaan saya saat pertama kali mendengarkan definisi yang ini, hmm. ia macam wow! sikit.
 
tak, ini bukan tentang dia sebetulnya.
 
sekurang-kurangnya, saya belajar bahawa orang yang punya definisinya tersendiri tentang sesuatu selalu mengujakan. unik dan luar biasa, bagi saya. definisi inilah yang akan jadi kayu ukur untuk setiap keputusan, pilihan, dan kecenderungannya dalam apa-apa hal sekalipun.
 
tidak dapat tidak, orang yang punya definisi tersendiri pastinya telah terlebih awal maklum dan kenal dirinya, sebelum kenal orang lain, meski dengan atau tanpa sedar. tentang apa yang dia mahu, tentang apa yang dia perlu, tentang ketidaksukaannya, tentang kesukaannya dan sebagainya.

ia juga pastinya lebih berani, lebih yakin, lebih teguh dan kalaupun sedikit tersasar ia akan tetap tenang menemukan jalannya semula. hmm.

"ORANG YANG BERANI TIDAK PERNAH MERASA KESAL KERANA MEMILIH."  
- MENANTI, SUTUNG UMAR RS.
 
teruntuk hal-hal apapun, moga semakin mengenal diri kita, semakin benar definisi kita, semakin tepat pilihan kita, dan semakin terarah hidup kita!
 
Allah, luruskanlah.


_____
ps: "always revisit the reason why you do the things that you do; the reason with which you live your life. it is surprisingly easy to forget, and easier to lose sight of what's more important." - aiman azlan
 
 

Tuesday, July 21, 2015

suatu malam di Malam Raya;


"i like her. she makes life interesting. she, herself, is interesting, i suppose. she talks right from the heart. i appreciate her frankness and i like the fact that she doesn't force the natural flow of a conversation. there's personality in her words. she thus gets to the core of things and that's important because with her — i can talk knowing that the talk is real! oh believe me, it’s amazingly real! and she also gives me the opportunity to listen as fully and completely as possible. and i can't seem to get her out of my head..."

― virginia woolf, selected letters of virginia woolf


 

Wednesday, July 15, 2015

di sebalik kata-kata yang tertinggal (x);

 
 
 
semalam, aku cuba untuk letakkan engkau dalam satu-satu kata untuk menerangkan engkau. aku pilih beberapa, terbiasa terletak dalam rangkap puisi-puisi cinta.
 
cukuplah hujan, awan, bulan; kata-kata yang aku gemar. lalu, aku terfikir-fikir semula, bahawa tiada sepatah pun paling tepat atau sempurna mengena dengan engkau. 
 
tersedar aku, selama ini engkau cuma menjadi engkau; yang bukan hujan; bukan awan; bukan bulan; bukan satu-satu kata yang konkrit, jitu, tepat atau tuntas dalam kamus aku. bahkan, nil; kosong dan tiada yang menyamai engkau! 
 
engkau cuma menjadi engkau; menjelma hujan saat bumi kontang kekeringan; merubah awan saat terik mohon teduhan, menjadi bulan saat malam butuh lindungan;
 
ENGKAU CUMA MENJADI ENGKAU;
SAAT AKU (-SEBETULNYA) MENJADI AKU.