20140418

terima kasih kerana menjadi, -manusia.

bismillah
"adakalanya elok juga saya sedih, marah atau tersasul dalam komunikasi sama ada di facebook atau di luar. apabila kita sentiasa gembira macam dunia ini langsung tiada keresahan dan kerungsingan, kita secara subliminal menyuntik beban yang menyakitkan kepada manusia-manusia lain. 
terkenang kisah Rasulullah sallallaahu 'alayhi wa sallam yang enggan bertemu dengan Umar radhiyallahu 'anhu kerana mahu menyendiri.

terdengar hati berkata, "oh Rasulullah, terima kerana kerana menjadi manusia. engkau terasa makin dekat kepadaku, kerana engkau tidak menyembunyikan apa yang engkau rasa seperti apa yang aku rasa."

menjadi hamba Allah yang positif bukan dengan mengharamkan semua reaksi diri yang negatif. sebaliknya, menyalurkan perasaan-perasaan manusiawi itu ke jalan yang diredhai Allah."

- petikan dari fb ustaz hasrizal, mei 2012
--

saya tidak pasti, kalau ustaz masih memaksudkannya. sebab, tulisan ustaz ini saya salin beberapa tahun lalu, dari facebook ustaz sendiri. jadi, untuk tempoh yang panjang dan lama itu, memungkinkan pandangan dan pemikiran ustaz dulu dan kini, berubah atau berbeza.

sebabnya, makin kita belajar, makin kita tahu, makin kita faham, seterusnya itulah yang membentuk pandangan dan corak pemikiran kita. termasuklah juga pembentukan sifat dan peribadi. kesemuanya akan melalui fasa-fasa perubahan tertentu, lalu membentuk "kita" yang hari ini.

berbalik semula pada tulisan tersebut, saya sangat tertarik dengan fokus isinya. kejujuran dan pengakuan selalu mewariskan kebaikan yang banyak. lebih-lebih lagi, apabila mengakui kelemahan dan kekurangan diri sendiri. hal ini, sesungguhnya bukan sesuatu yang mudah!

syukur dan terima kasih saya, teruntuk orang-orang yang mengakui kelemahan dan kekurangannya. ia membuatkan saya tidak terbeban dengan ‘kesempurnaan’ -nya, bahkan bersedia, rela, malah terbuka hati untuk mengakui kelemahan dan kekurangan saya yang maha banyak juga. ia malah membebaskan saya untuk menjadi diri saya sendiri, selain berusaha dan belajar untuk memperbaiki dan menata kekurangan saya satu-persatu. ia juga bahkan menjelaskan kekurangan ini bukan tentang 'saya' semata-mata, bukan juga tentang 'dia', tetapi lebih, tentang 'kita'.

terima kasih kepada ellen shreiber, untuk saratnya hikmah kata-katanya, saat dia mengatakan; "it’s not about changing. it’s about growing, -together."

itu lebih manusiawi, bagi saya. sebab kata seseorang, "kita selalu ada struggle masing-masing.." maka, memaksakannya untuk bertindak dan berfikir persis kita adalah sesuatu yang tidak adil, malah (mungkin) mustahil.

sebagaimana 'mujahadah'-nya saya dengan 'struggle' saya untuk memahami dan melalui sesuatu, sebegitu jugalah orang lain dengan 'struggle'-nya untuk memahami dan melalui sesuatu. kita semua berbeza!

hanya saja, kalau kita boleh meraikan 'struggle' masing-masing.
"if you love a flower, don't pick it up.
because if you pick it up, it dies and it ceases to be what you love.
so if you love a flower, let it be.
love is not about possession.
love is about appreciation."

- osho
terima kasih untuk dia yang tiba-tiba merangkul erat saya semalam, dan menuturkan jujur, "akakkkkk…rindu!". maka terpanggil untuk saya mengucapkan hal yang sama, langsung memaknakan sabda Nabi S.A.W yang terkasih, "apabila seseorang lelaki meyayangi saudaranya, maka beritahulah dia bahawa dia mengasihi sahabat itu." (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

dan untuk awak juga, terima kasih.

memetik semula kata-kata ustaz;
"menjadi hamba Allah yang positif bukan dengan mengharamkan semua reaksi diri yang negatif. sebaliknya, menyalurkan perasaan-perasaan manusiawi itu ke jalan yang diredhai Allah."
alhamdulillah 'ala kulli ni'mah
astaghfirullah 'ala kulli zanb

20140417

"HOME IS WHERE THE HEART IS."


"the fact is, there is no foundation, no secure ground, upon which people may stand today if it isn’t the family. if you don't have the support and love and caring and concern that you get from a family, you don't have much at all. love is so supremely important. as our great poet auden said, "love each other or perish." 
― mitch albom, tuesdays with morrie

 ps: i'm touched T.T
(..walaupun ammar tu sebenaqnya belum berjaya pun diusrahkan. shheehhsh :p)

20140416

"men-cintalah, ber-cintalah, dengan paling ter-hormat!"

bismillah

andaikan dunia ini mempunyai sejuta Ahmad yang sering mencintai dengan hormat dan paling terhormat, saya yakin akan terlahir lebih ramai jutaan Ahmad. alangkah kalau tiada penghinaan, tiada penderaan, tiada pencabulan, tiada penipuan, tiada pembunuhan, tiada penghambaan!

namun, ini bukan kerja sebelah pihak. ini adalah kerja 'saling'. sebelum diraih penghormatan, syarat kebiasaannya adalah terlebih dulu menghormati, lebih-lebih lagi pada diri sendiri. 

menghormati akal, menghormati roh, menghormati perasaan, bahkan menghormati jasad sebagai anugerah tak ternilai. justeru menilai setiap satunya dengan cuma pandangan Allah, dan bukan pandangan manusia.

"respek dan apresiasi adalah pekerjaan jiwa para pencinta. setiap hubungan jangka panjang hanya bisa bertahan kalau ia dibangun dari respek dan apresiasi. dan inilah ketrampilan yang harus kita pelajari. memahami, mengerti, dan menghargai orang yang kita cintai hanya mungkin dilakukan jika kita bisa memahami, mengerti, dan menghargai diri kita sendiri.

respek dan apresiasi kepada diri sendiri membuat kita mampu menghargai dan mengapresiasi orang lain.
tapi, respek dan apresiasi itu lahir dari fakta bahwa memang ada "sesuatu" yang berharga yang kita miliki yang patut dan harus kita dan orang lain hargai."

- serial cinta, anis matta, hlmn. 250-251

adik-adikku, moga kita mampu;

"men-cinta, 
ber-cinta,
dengan paling ter-hormat!"

 meskipun bukan untuk orang lain, sekurang-kurangnya untuk diri sendiri.

ps: "only the person who has faith in himself is able to be faithful to others." - erich fromm. (be!)
 

20140414

teruntuk Aku, dan Kita.

bismillah

"there's nothing wrong with reading a book you love over and over. when you do, the words get inside you, become a part of you, in a way that words in a book you've read only once can't."
― gail carson levine, writing magic: creating stories that fly

mengulang baca Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim, saya kembali menemukan sesuatu. antara yang paling terkesan adalah, huraian panjang Ustaz Salim tentang nilai 'barokah'. keberkatan dalam apa-apa saja yang sedang kita lakukan.

sederhananya, 'barokah' itu, adalah 'bertambahnya kebaikan dalam setiap kejadian yang kita alami waktu demi waktu.' begitu, terangkum kemas huruf-huruf Ustaz Salim. ini bermakna, apa-apa sahaja; projek, tugasan, perancangan, aktiviti, tulisan, perencanaan, bahkan kehidupan seluruhnya sekalipun, bila tersusup 'barokah' di dalamnya, pasti akan menjadikan kita seseorang yang lebih baik dari hari ke hari.

maka apakah yang lebih baik, selain 'barokah' yang menjadikan kita makin dekat dengan Rabb, dan makin akrab dengan Allah? makin tulus pengharapan, makin kerap pengaduan, makin bertambah amalan, makin khusyuk pengabdian, makin hati-hati perencanaan, makin takut kesalahan, makin dalam kebergantungan, dan makin benar perjalanan!

tanpa sedar, kesemua ini seolah-olah kembali mengunjukkan tanya;

"apakah setiap perkara yang dilakukan telah menjadikan aku lebih baik dari yang sebelumnya, ataukah lebih buruk?"

Allah, Engkaulah sebaik-baik Pemelihara, titipkan 'basirah' (mata hati) dan 'furqan' dalam setiap satu tindakan, ucapan, gerak langkah dan perbuatan, moga Engkau berkehendak menjadikan 'barokah' untuk seluruh kehidupan! andai belum, luruskan dan tunjukkan, Engkaulah sesungguhnya sebaik-baik al-Haadi!

"dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk." (ad-Dhuha: 7)

Allah, anugerahkanlah segala kebaikan!
ameen.

20140409

"I have this strange feeling that I'm not myself anymore. It's hard to put into words, but I guess it's like I was fast asleep, and someone came, disassembled me, and hurriedly put me back together again. That sort of feeling." - Murakami

bismillah

ada masa-masanya, saya rasa 'insecure' dengan perasaan saya sendiri. waktu-waktu saya lebih banyak bercakap dengan manusia, berbanding bercakap dengan Allah. waktu-waktu saya lebih banyak bercerita dengan manusia, berbanding bercerita dengan Allah. waktu-waktu saya lebih banyak mengadu dengan manusia, berbanding mengadu dengan Allah. waktu-waktu saya lebih bersungguh-sungguh dengan manusia, berbanding bersungguh-sungguh dengan Allah.

hinggakan tanpa sedar, saya menyerahkan 'urusan-urusan' saya pada manusia. sedangkan saban kali, doa yang tertutur adalah, "Allah, jangan Engkau serahkan urusanku kepada diriku sendiri, walaupun dalam sekelip mata."

waktu itulah, tanpa sedar tercabutlah ruang-ruang tawakal dan kebergantungan pada yang selayaknya. maka, waktu-waktu itulah saya rasa 'insecure' dengan perasaan sendiri. sebab jauhnya kita dari Dia, akan selalu menghantarkan gerak langkah dan tutur bicara yang salah. 

saya cukup yakin, resah yang membawa kita mencari dan memanggil Dia, adalah lebih baik dari gembira dan bahagia yang menjauhkan kita dari Dia.

saya cukup-cukup rindu, masa-masa resah gelisah, amuk kecewa, takut bimbang yang menuntut saya untuk tidak henti-henti sujud dan berharap. 

sungguh, keserabutan antara khauf (takut) dan raja' (harap) itu lebih menenangkan!