Thursday, September 25, 2014

"nothing and no one can make you happy until you are happy with yourself."

bismillah

kl sentral, september, 17

sewaktu menunggu di stesen kl sentral, terlihat saya akan gelagat dua anak beranak ini. wallahhi, antara yang membuatkan saya tersenyum sendiri ialah apabila si ayah bersungguh-sungguh berkali-kali menuding jarinya ke garis-garis kuning, seolah-olah memberitahu si kecil itu dan ini; tentang pantang larang di terminal, dan sebagainya.

ah, ternyata bahagia itu cukup sederhana.  


video


sewaktu menunggu seseorang di uiam, terlihat saya akan si kecil ini. dia menghampiri saya, membawakan beberapa helai kertas yang termuat penuh iklan-iklan produk. saya mengambilnya, dan membuatkannya kapal kertas, topi kertas, dan sebagainya. anehnya, dia bermain sambil ketawa dengan bersungguh-sungguh!

ah, ternyata bahagia itu cukup sederhana. 
hanya kalau hati kita mahu, kawan!

seriang dan sebahagia ini;

video
komrad tok rahamah, penang


 ______
ps: "if you have the power to make someone happy, do it. the world needs more of that."

Wednesday, September 24, 2014

dan semut-semut pun mati kekenyangan.


suatu tengahari, bercakap tentang karya dan karyawan jujur | sept, 24.

"if you clean it up, get analytical, all the subtle joy and emotion you felt in the first place goes flying out the window."

andrew wyeth


bismillah

(i)

lelaki selalu salah menduga. diamnya perempuan, tidak selalunya bermakna enggan. dia hanya sering menginginkan kejelasan. perempuan yang benar dalam bercinta, tidak akan mudah-mudah menjaja cintanya, bahkan kepada yang dicinta sekalipun.

andai dia sabar menunggu hingga sampai waktunya; tidak mudah memporak-perandakan gundah-gulana, resah-gelisah, mabuk-rindu jiwanya, demi menjaga yang halal daripada terturas ke jalan yang haram, itu bererti dia sedang mencintai Tuhannya, lebih daripada mencintaimu. dikhuatirkan apa, kalau cinta padamu tetap ada, tapi masih dalam jagaan Tuhannya, sepenuh-penuhnya? itu akhlak perempuan, dari rasa malu yang sesungguhnya.

engkau apa tahu?

(ii)

perempuan selalu salah menduga. tidak mengapa, untuk memulakan cinta. andai engkau benar dalam mencinta, 'ya' atau 'tidak' kedua-duanya hakikatnya menyatakan jawapan. pada hati, 'ya' akan membuka ruang dan harapan. 'tidak' pula akan segera memberi kejelasan. bahkan, ini adalah cara paling awal engkau mengenalinya. andai dia jejaka yang baik, baik 'ya' atau 'tidak', padanya kau akan masih menjadi perempuan yang selayaknya dihormat dan terhormat. kalau bukan, kenapa kecewa? bahkan syukur, kerana Allah sebaik-baik pelindung dan pemelihara; tertonjol sudah ketidakmatangan intelektualnya, malahan buruk hodoh peribadinya!

(iii)

kita selalu salah menduga, tidak selalu rasa itu harus diumbar-umbarkan. tidak selalu perhatian itu harus ditunjukkan. tidak harus selalu cinta dan rindu itu diungkapkan. biar ia menjadi gelora dalam hati; menggelembung, membengkak, membuncah, dan menggulung deras di dalam.

sampai masa, tahulah ia harus ke mana dianak pergi.

(iv)

kita selalu salah menduga; seringkali mengharapkan keberadaan dan kebersamaan orang-orang lain untuk menggantikan kedukaan kepada kebahagiaan. namun, bukankah nantinya kesedihan atau kegembiraan kita akan cuma terletak pada hanya keberadaan atau ketiadaan mereka? sedangkan, gembira dan sedih kita harusnya hanya bersebabkan Allah, dan teruntuk Allah! 

maka, ada atau tiadanya manusia, kita akan selalu saja merasa dicukupkan dengan bahagia. itu sudah lebih dari sempurna!

(v)

kita selalu salah menduga; seringkali menangisi perubahan kecil besar orang-orang di sekeliling. meratapi kecewa kerana mereka yang diharap-harapkan, tidak seperti yang kita mahukan. namun, bukankah itu bermakna kita sebenarnya tidak sedikitpun ikhlas mencintai mereka, bahkan hakikatnya kita hanya mencintai diri, keinginan dan harapan kita sahaja? mencintai mereka hanya kerana mereka menjadi figur, sesuai seperti yang kita mahukan?

sekian begitulah, tentang salah duga-salah duga kita. 


Tuesday, September 23, 2014

bertemu orang-orang cantik;

bismillah

saya tidak tahu kenapa, perempuan yang paling cantik bagi saya, tetaplah yang paling yakin dan tenang dengan dirinya, semudah senyum di hadapan kamera, menayangkan sejuta gigi rongaknya dengan terpaling ringan, tulus dan ikhlas!

oh, cantiknya!

itu keanggunan yang paling unggul bagi saya, bersebabkan ia tidak dapat tidak, harus bermula dari dalam, lalu dengan semulajadinya tertampil dan tertonjol keluar. ia bukan mudah-mudah bagi semua orang, bahkan saya sendiri adakalanya harus kuat 'menentang' dan 'melawan' diri sendiri.

kebelakangan ini, saya seperti diajar bahawa apa-apa yang di dalam, selalu akan 'menarik' apa-apa yang di luar. seolah-olahnya, begini formulanya; orang yang gembira, pasti mampu menggembirakan orang lain. orang yang tenang, pasti mampu menenangkan orang lain. orang yang yakin, pasti mampu meyakinkan orang lain. sebegitu juga dengan orang yang selesa dengan dirinya, pasti akan membuatkan orang lain juga selesa dan senang ketika bergaul atau bersama dengannya.

semudah itu juga logikanya apabila saya takut, tidak yakin, ragu-ragu, maka perasaan yang sama akan teralir keluar mengenai orang-orang terhampir. baik melalui pandangan, gerak-geri, atau tutur kata, ia pasti akan mengesani orang-orang sekeliling, hinggakan mereka akan turut merasakan 'perasaan' yang sama, sepertimana hati saya merasakannya saat itu.

hal ini pernah dihuraikan panjang oleh Abbas As-Sisi di dalam bukunya, 'Bagaimana Menyentuh Hati', saat membicarakan tentang 'kuasa sebuah pandangan';

"jika pandangan seseorang yang dipenuhi oleh rasa dengki saja dapat menghancurkan, maka pandangan yang penuh cinta dan kasih sayang juga dapat berpengaruh dalam mengantarkan kepada kebenaran yang akhirnya dapat mempererat barisan dan memperkuat bangunan. ini merupakan kekuatan terpendam yang dimiliki oleh manusia. apa yang anda sembunyikan dalam hati akan tersingkap dengan tatapan mata."

sebegitu jua saat menjelaskan tentang 'kuasa sebuah senyuman', beliau menambah dengan menyebutkan di dalam buku yang sama;

Rasulullah S.A.W bersabda, "senyummu di muka saudaramu adalah sedekah," dan bukan "senyummu untuk saudaramu."
dalam hadis di atas dipakai kata "muka", kerana pada wajah terdapat banyak indra, dan ia merupakan gambaran hakiki seorang manusia. oleh kerananya, sebuah senyuman yang tidak terlihat oleh saudara kita, tidak akan mempunyai erti dan tidak akan berkesan.
senyuman adalah gambaran isi hati yang menggerakkan perasaan dan memancar pada wajah seperti kilatan cahaya, seakan berbicara dan memanggil, sehingga hati yang mendengar akan terpikat.
senyuman yang dibuat-buat tidaklah sama dengan senyuman yang tulus ikhlas. senyuman yang dibuat-buat adalah sebuah kreasi seni, tak lebih dan sebuah plastik. sedangkan senyuman yang tulus ikhlas adalah fitrah; ia ibarat bunga yang mekar di tangkainya, indah dipandang mata, dan harum baunya, yang menjadikan jiwa terlena dan bersimpati."

oleh sebab-sebab ini mungkin, (saya merasakan) keanggunan seseorang lebih awal terlihat bukan pada rupa parasnya, tetapi lebih dulu terpancar pada naluri dan perasaan yang dihantarkan dari hatinya.

keyakinannya, ketenangannya, keselesaannya, keikhlasannya, ketulusannya yang membuatkan dia akan sungguh-sungguh terlihat cantik dan indah! tidaklah kesemua ini didapatkan dengan percuma, melainkan bersumberkan dari satu-satunya Pencipta, -Allah. maka kelangsungan hubungannya, kedekatannya, keyakinannya, kebergantungannya, munajatnya dan muraqabahnya dengan Allah S.W.T, akan menjadikan dia seseorang yang begitu.

dia tidak pernah sempurna, namun keyakinannya boleh membebaskannya dari kecewa. kebergantungannya boleh menghidupkannya dari sedih. ketidakputusasaannya boleh membangunkannya dari kesilapan dan kesalahan. kelapangan hatinya bahkan boleh menepis segala sangka buruk, hasad dengki, ego, bongkak terhadap orang lain. kesyukurannya hanya menampakkan kebahagiaan semata-mata, baik pada hati mahupun wajah!




saya selalu cemburu dengan orang-orang sebegini, terlalu! betapa saya teringin dan mahu menjadi orang-orang yang seindah dan secantik ini, tidak meragukan walau sedikitpun.

"learning to become a human is a process that never ends." - tariq ramadan

oh Allah, mudahkanlah!

Friday, September 12, 2014

September di KLCC dan sebuah 'Kurnia'-wan;


bismillah

i.

pernah dengar ini? ketika Anne Lamotte menuliskan tentang ini;

"becoming a writer can also profoundly change your life as a reader. one reads with deeper appreciation and concerntration, knowing now how hard writing is, especially how hard it is to make it look effortless.
you begin to read with a writer's eyes. you focus in a new way. you study how someone portrays his or her version of things in a way that is new and bold and original.
you notice how a writer paints in a mesmerizing character or era for you, without your having the sense of being given a whole lot of information, and when you realize how artfully this has happened, you may actually PUT THE BOOK DOWN FOR A MOMENT AND SAVOR IT, JUST TASTE IT."

nah, ini sebenarnya reviu ringkas tentang buku 'Hujan Matahari', karya Kurniawan Gunadi. 

saya belumpun menghabiskannya, tetapi untuk sehelai dua cuma yang terbaca, saya benar-benar "...put the book down for a moment and savor it, and just taste it!"
 
ia seolah-olah bercerita kepada saya, bahawa saya sebenarnya masih terlalu malu untuk menuturkan sejujurnya tentang cinta dan kehidupan. tidak! sebenarnya, saya masih takut untuk dilabelkan romantis, melankolis dan jaguh kepada terma-terma seangkatannya. bukan sahaja dari orang lain, bahkan dari diri sendiri saya belumpun merdeka. 

ketika menuliskan tentang itu, setiap kali padam tulis saya, pasti ada sahaja bahagian yang saya sembunyikan; meraikan ‘kemungkinan’ apa yang orang paling mahukan, dan mengenepikan apa sebenar-benarnya yang saya rasakan. ketika menuliskan tentang itu, setiap kali ulang tulis saya, pasti ada sahaja sisi-sisi yang saya tolak atau buang; cuba-cuba menjadi ‘kemungkinan’ apa yang orang inginkan, dan membungkus hapus sebenar-benar diri saya, khususnya jiwa dan perasaan. 

tetapi, tidak untuk penulis ini. apabila membacanya, saya seperti yang Anne Lamotte katakan sebelumnya, "…you study how someone portrays his or her version of things in a way that is new and bold and original."

dia seperti menuliskan kesemuanya, tanpa malu-malu atau takut-takut. dia menuliskan serba-serbi hidupnya tentang resah harapnya, gelisah takutnya, kasih cintanya, tanpa bertopengkan apa-apa.

kerana itu mungkin, maksudnya begitu sampai sebab sejatinya, manusia memang merasakan kesemua itu, sama ada menafikan atau menidakkan. 

rawaknya, antara yang awal saya ter-baca adalah yang ini;


ada rasa pada kata-kata, hlmn. 193

hah!

sesungguhnya saya mengenal kalian, melalui itu. 

hinggakan sebagaimana Kurniawan menuliskan, "sampai pada suatu hari kita pertama bertemu, kita seolah-olah telah saling mengenal lama sekali."
 

#teamchampak; September di KLCC | kredit: nadiarusli

oh, terima kasih kalian kerana menulis!


ii. 

"tidak perlu malu untuk 10 pilihan kita adalah buku populis dan biasa-biasa. jika hidayah Allah boleh datang melalui iktibar seekor nyamuk, kenapa perlu malu kalau buku yang mengundang perubahan diri kita adalah buku yang kaum intelektual cebikkan bibir mereka?

"sesungguhnya Allah tidak malu membuat perbandingan apa sahaja, (seperti) nyamuk hingga ke suatu yang lebih daripadanya (kerana setiap sesuatu itu ada hikmahnya)..." (al-Baqarah: 26)

dalam masa yang sama juga, tidak salah juga untuk kesedaran dicetuskan oleh pembacaan buku-buku yang tinggi. titik utamanya adalah pada memuliakan kebenaran, yang boleh berada di mana-mana sahaja."
- muarrikhun

wallahhua'lam.

Monday, September 8, 2014

untuk kawan-kawan yang kita suka (ii);

bismillah

i.

antara kami berenam (x-roomates), dia yang satu ini paling banyak memperkenalkan saya tentang dunia pernikahan; ikhtilat lelaki perempuan, taaruf, cinta, tanggungjawab, dan sebagainya, walau belumpun mendirikan rumah tangga. 

tidak malu untuk saya mengakui, dulu kerapkali kami bercakap tentang ini, dan bagi saya ia bukanlah sesuatu yang 'menggelikan', 'merimaskan' atau seperti yang sering-sering orang katakan, "tak payahlah fikir lagi, belajar dulu" ataupun "duk banyak sangat cakap pasal kawin, nak kawin la tu" dan sebagainya. 

tidak!

hinggakan, topik-topik yang dibualkan ini, berserta isi-isinya saban kali setiap kali balik ke rumah, saya akan berkongsi dan bercerita dengan adik, dan kebiasaannya setelah terdiam sekejap dia akan berkata, "hmm, matangnya! adik tak pernah terfikir pun macam tu."

walau bagi saya, entahlah di mana diukurnya kematangan itu.

kalau benar itulah kematangan, maka terima kasih dan syukur saya teruntuk mereka yang terlalu banyak memberikan masukan. bagi saya, perbualan sebegini selalu mengarahkan pemikiran; 'apa yang paling aku mahu?', 'siapa aku, dan pasangan bagaimana yang aku mahu?', 'prioriti atau keutamaan apa yang aku perlu?', 'jalan bagaimana yang harus aku tahu', dan sebagainya. sedikit sebanyak, ia mencerahkan pemikiran, memperbetul tindak-tanduk, menghalakan keinginan dan sebagainya. 

entah, semua ini proses bagi saya. ia benar-benar mengajar saya agar tidak cepat-cepat menuding jari kepada adik-adik yang kononnya umurnya masih dini, dengan melabelnya 'miang' atau 'tidak matang' dan sebagainya apabila mereka bercakap tentang cinta dan kahwin. tersedar saya, corak pemikiran dan cara pandang benar-benar akan berubah seiring dengan masa, pengalaman, umur, persekitaran, pergaulan, kawan-kawan dan termasuklah, bahan bacaan. 

mereka akan melaluinya sendiri, sebagaimana kita melaluinya. sudut pandang tentang 'cinta' dan 'nikah' ini, bermula dari 'crush', 'couple', 'islamic couple', atau fenomena 'CUDIPT', 'Mahligai Kasih', 'Versus', 'Menunggu Di Sayup Rindu', 'Menanti Bidadari', 'Insan Bernama Kekasih', 'Tautan Hati', 'Bae', 'Hana Yori Dango', 'Boys Over Flowers' atau lain-lain novel-novel, filem-filem, drama-drama, lagu-lagu dan seumpamanya ini, di akhirnya (bagi saya) akan terarah satu-persatu. hikmahnya akan tersingkap perlahan-lahan seiring hal-hal yang mendominasi tadi (masa, pengalaman, umur, persekitaran, pergaulan, kawan-kawan dan bahan bacaan).

sehitam atau seburuk apapun pengalaman, ia adalah proses mengenal diri. ia benar-benar akan mengajar dan membentuk peribadi.

hinggalah sampai di usia ini, saya terperasan bahawa saya sudah 'bosan' untuk bercakap tentang itu. sudah mula 'jemu' mendengarkan adik-adik bercerita tentang perkara yang bagi saya merupakan isu yang remeh. namun, seringkali saya menasihatkan diri, saya juga pernah berada di usia sedemikian dan sedemikian. maka, tunjukkanlah 'minat' walau semudah apapun ceritanya, agar mereka masih mahu terus bercerita. sekurang-kurangnya, pandangan yang salah boleh dibetulkan. tindakan yang tersasar, boleh dinasihati. jangan cepat melabel, jangan melulu menghukum hanya kerana saya juga pernah berada di usia dan fasa yang sama!

apakah saya lebih mulia berbanding Rasulullah, ketika sorang lelaki bertemunya dalam keadaan hasrat yang terpenuh, keinginan yang memuncak untuk berzina, didengarkannya terlebih dahulu, ditenangkannya dahulu dengan pertanyaan paling mengesankan, "apakah engkau mahu berzina dengan ibumu?"

untuk seorang lelaki meluahkan keinginan maksiatnya kepada pembawa risalah, ini ternyata benar-benar ajaib! sejauh apakah empatimu Sang Rasul?

ii.

maka, menemui mereka semula baru-baru ini, menghabiskan hujung minggu bersama-sama, meraikan walimah salah seorang antara kami, kata dia di suatu malam;

"sekarang, macam dah jarang fikir tentang gol-gol yang pernah dibuat dulu. macam dah malas untuk fikir jauh-jauh tentang impian-lepas-kahwin dan sebagainya. sebab, yang lebih dihitung Allah S.W.T adalah apa yang kita buat sekarang. bukanlah tak fikir langsung, cuma lebih utamakan yang sekarang; apa yang kita buat sehari-harian, adakah bermakna atau tidak?"

saya cuma tersenyum dan membalasnya;

"haaaaaaaah, kita dah besar. kan?"

sebab, saya juga sedang merasakan hal yang sama. dia angguk.

persis sebagaimana 'kotak hidup' yang pernah dilukiskan Rasulullah S.A.W kepada para sahabat. adakalanya, betapa panjangnya angan-angan diri, melebihi batas dan had umur yang ada. andaikan selalu-selalu bercakap tentang impian, tanpa mempeduli pembaikan apa yang harus diperbuat sekarang, bimbangnya ia cuma sebatas angan-angan, melewati umur-umur dengan sia-sia tanpa apa-apa. 

terngiang-ngiang kata murabbi saya, "apa lagi yang boleh menjadi motivasi buat kita selain redha Allah dan kematian?"



semua ini benar-benar peringatan yang bermakna ter-untuk seorang saya!

terima kasih untuk mereka-mereka yang bersama saya menuju kedewasaan ini. 'deep conversation' sebegini selalu membuatkan saya mampu untuk bermuhasabah. ah, betapa kita boleh berdiam dengan sangat lama, atau bercakap dengan sangat panjang dengan orang yang kita selesa.




saya yakin, di usia 40 tahun nanti (andai masih diberi kenikmatan umur), saat menyelak entri ini lagi, saya pasti akan mempunyai sudut pandang dan corak fikir yang lain pula. sebagaimana saya di usia hari ini, menyelak entri empat tahun lalu, dan berkata; "kenapalah dulu aku budak-budak sangat?"

sebab hakikatnya;


"I DIDN'T CHANGE. I GREW UP."

moga kebersamaan Allah, selalu meletakkan kita di tempat-tempat, pengalaman-pengalaman, pilihan-pilihan yang benar cuma, -sampai Syurga!


iii.

teruntuk dia yang seorang lagi, yang saya kasihi kerana-Nya, tiadalah sebaik-baik doa melainkan moga ikatan yang baru berhasil menemukan ketenangan; tiada lagi ragu-ragu, syak wasangka, ketidakpastian, syubhah, sangka buruk, ketidaktenteraman, kegalauan, salah faham, pendugaan, kesakitan jiwa, atau perasaan-perasaan yang tidak benar, kerana sememangnya itulah janji-Nya untuk hubungan yang halal dan suci; mawaddah, sakeenah, dan rahmah.

sebagaimana Rasulullah S.A.W juga pernah mensabdakan;

"tiada yang lebih patut kepada dua orang yang saling mencintai kecuali pernikahan." (hr ibnu majah dan al-hakim).

ameen ya Rabbal 'alameen.

wallahhua'lam.

______
ps: hah, abaikan lukisan hodoh itu. anggaplah ia sebagai sebuah seni XD