Pages

Friday, April 5, 2013

05:43.

bismillah

dalam melalui proses tarbiyah, banyak kali dilatih untuk bercakap. dilatih untuk mengurus, dilatih untuk bermacam-macam benda, yang diposisikan mengikut kemampuan masing-masing. 

persis Bilal yang diposisikan mengalunkan azan, kerana suaranya merdu. Khalid al-Walid meski paling kurang hafalan al-Qurannya, merupakan antara sahabat agung hingga digelar saifullah; pedang Allah. Hudzaifah al-Yamani, sebagai pemegang rahsia. Zaid bin Tsabit, sebagai penulis wahyu. Salim Maula Abi Hudzaifah, meski di awalnya cuma hamba sahaya, namun beliau tergolong dalam senarai yang paling mafhum tentang al-Quran. Abdullah Ibnu Makhtum yang walaupun cacat penglihatan, 'dimuliakan' di prajurit paling hadapan, lantaran kebutaannya menghalang dari rasa gentar dan takut berhadapan musuh. malah Nu'ayman bin Amr yang disifatkan suka berlawak, dibela Rasulullah dengan kata-kata; "jangan mencelanya. sesungguhnya dia sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya".

subhanallah.

dalam halaqah terakhir semester lepas, sewaktu berbincang-bincang dengan murabbi suatu hari, saya adukan kelemahan saya dalam bercakap. kelemahan dalam menjadi muwajjih. kelemahan dalam menjadi murabbi. kelemahan yang saya rasakan 'segala-gala' kelemahan yang ada dalam diri.

fikir saya pada waktu itu, murabbi mungkin akan membalas pengaduan saya dengan galakan untuk berusaha lebih, supaya meningkatkan potensi diri dan sebagainya. dan saya pada waktu, mungkin hanya perlu mendengarnya dari mulut orang lain, sekadar mengingatkan sekali lagi, meski hakikatnya diri sedia tahu tentang itu. 

namun, yang dikatakan ternyata menyimpang dari telahan akal fikir. kata dia;

"umy ada kelebihan tersendiri yang mungkin orang lain tak ada. dalam menyampaikan, ada muwajjih yang pandai berlawak, ada muwajjih yang serius, ada muwajjih yang sekian dan sekian, semua itu hakikatnya melengkapkan. terpulang pada audiens untuk memilih, kerana tidak semua audiens suka pada satu-satu kriteria tertentu sahaja. akhawat sangat menghargai kelebihan umy, maka jadilah diri umy sendiri". 

subhanallah, moga terletak sebagai buah tutur yang Rasulullah sabdakan sebagai sedekah, diangkatnya ke langit tinggi, dan tercatat sebagai amalan yang baik di sisi Allah, sebagaimana yang difirmankan;

"kepadaNya -lah akan naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal kebajikan Dia akan mengangkatnya" (Fatir: 10)

--


belajar 'izzah dengan diri sendiri. belajar mengoreksi kekuatan dan kelemahan sendiri. belajar memposisikan kesemuanya di jalan yang benar. belajar mengakuinya, belajar mengatakannya, dan belajar mempraktikannya. 

ya Allah, permudahkanlah.
ameen.



______
"i write to give myself strength. i write to be the characters that i am not. i write to explore all the things i'm afraid of" - joss whedon

Thursday, April 4, 2013

untuk kawan-kawan yang kita suka;

bismillah

antara hal yang saya suka tentang puisi ialah, dia sangat jujur dan berterus-terang. tapi, secara maknawinya, diri sendiri yang perlu 'cari' dan 'maknai', menggunakan akal dan hati sendiri. terpulang pada penilai untuk menghakimi. salah betul, hanya penulis yang tahu. 

antara lainnya, puisi sangat melatih otak 'berfikir' secara subjektif. hmm, mungkin? entahlah. tapi, kebiasaannya di rumah, selesai tulis satu-satu entri atau puisi, orang pertama yang akan dipaksakan membacanya ialah, -adik. 

dan soalan yang maha kerap diitanya ialah; "adik rasa, puisi ni pasal apa?". dia pun kadang-kadang layankan saja kehendak 'gila' kakaknya, dan menjawab suka-suka hati. kalau malas sangat, dia noktahkan dengan senyum sinis penuh makna, dan, "taktau".

--

"kamu tidak perlu mengerti lukisan untuk suka lukisan. cukup menggunakan hati saja" - keenan; perahu kertas, hlmn. 122

nah, tanpa gugel, tanpa apa-apa, dan cuma pakai hati sendiri, agak-agak puisi ini tentang apa? tak akan pernah ada jawapan yang salah, dan tak akan pernah ada jawapan yang betul.

"entah sejak kapan kita suka gugup
di antara frasa-frasa pongah
di kain rentang yang berlubang-lubang
sepanjang jalan raya itu; kita berhimpitan
di antara kata-kata kasar yang desak-mendesak
di kain rentang yang ditiup angin,
yang diikat di antara batang pohon
dan tiang listrik itu; kita tergencet di sela-sela
huruf-huruf kaku yang tindih-menindih
di kain rentang yang berjuntai di perempatan jalan
yang tanpa lampu lalu-lintas itu.
telah sejak lama
rupanya kita suka membayangkan diri kita
menjelma kain rentang koyak-moyak itu, sebisanya
bertahan terhadap hujan, angin, panas, dan dingin"
:entah sejak kapan, sapardi djoko damono:

ps: untuk jiwa-jiwa yang suka puisi. ceh.

(satu lagi eskapism, huh)

Tuesday, April 2, 2013

07:19.

bismillah


sebenarnya, ayat-ayat ini boleh termaknakan, tanpa mempertimbang "you", tapi cukup saja dengan 'dua suara' dalam satu tubuh. 

begini;

pernah rasa diri amat goyang, jatuh, remuk redam, dan entah tiba-tiba terasa mahu padam semua entri di blog? (hee) tambah-tambah, bila muncul bisik pesimis; "ya Allah, malunya. kenapa aku tulis begini? kenapa?"

tapi, ada ketika rasa diri amat tinggi, bersemangat, dan bila tatap baca semula yang lepas-lepas, terasa; "ya Allah, berbezanya dulu dan sekarang, alhamdulillah". 

"don’t confuse my personality with my attitude.
my personality is who I am.
my attitude depends on who 'you' are"

sebenarnya, kadang-kadang, tak perlu pergi jauh-jauh sebab "you" itu pun, boleh jadi wujud dalam diri sendiri. 

menanggapkan personaliti sendiri pun, terpulang pada bagaimana 'kedudukan' diri sendiri pada waktu itu; 'down' atau 'high'!

rasa-rasanya lah, hmm.

ps: apapun yang termuncul; optimis, kawan. optimis! 

Monday, April 1, 2013

4/5!

bismillah



untuk novel ini, saya paling suka rentak bahasanya; dialog yang bersahaja, spontan, tidak terikat, natural, hidup, dan bebas. 

kekuatan bahasa langsung membawa pembaca pada pemaknaan karakter dan watak sekaligus. serius, dapat diselami. eceh. 

walaupun ada sebahagian unsur suspens yang dapat ditebak (teka) dari mula, namun tertampung dengan kekuatan tema; kombinasi seni (lukisan, tulisan, tarian, budaya) yang dialun sederhana, cantik, bahkan mampu menyentuh deria-deria rasa.

tidaklah sampai berjurai-jurai air mata pun, tapi entah. malah, setitik pun tidak tertitis. komedi pun ya, cinta pun ya, persahabatan pun ya, kekeluargaan pun ya, cita-cita pun ya. apapun, saya suka mungkin sebab kena dengan selera jiwa. kot?

novel perahu kertas; empat bintang!

oh, motif pembelian: tertarik pada tajuk. 

--

babak favorit;

keenan membawa kugy berkeliling melihat lukisannya, seperti orang yang mengadakan pameran. "ini berjudul sunset from the rooftop, ini heart of bliss.. yang ini the shady morning dan yang ini silent confession.. dan yang ini.."

"ini yang paling aneh," celah kugy menunjuk lukisan yang hanya gradasi warna dan garis-garis halus seperti larik-larik kapas. "yang lain ada gambar orang, cuma yang ini tidak ada". 

"cuba teka judulnya".

"itu misi mustahil namanya. mana mungkin aku dapat teka".

"lukisan yang ini jangan difikir, tetapi harus dirasa. apa perasaan yang muncul ketika kamu lihat lukisan ini? itulah judulnya".

kugy merenung lukisan itu lama-lama. dia memejamkan mata. lama. kedengaran nafasnya menghembus, dan setengah berbisik, dia berkata, "bebas."

giliran keenan terpaku. perlahan-lahan dia membalikkan lukisan yang tersandar pada dinding itu dan menuding ke arah judul yang tertera.

kugy terlopong. "freedom?"

"serius, aku sama sekali tidak sangka kamu dapat menekanya dengan tepat." keenan menggaru-garu kepala. "ini kebetulan yang aneh". 

hlmn. 51

--
wallahhua'lam.

ps: ini namanya eskapism. ergh!


"dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa" (al-furqan : 74)

bismillah


cdrhab; hlmn. 40

--

"bagaimana pandangan Islam melihat peranan ayah dalam keluarga? ini pertanyaan unik dan penting dikaji lebih mendalam. kerana ternyata sejarah hidup para ulama besar, para salafusoleh, umumnya dilatarbelakangi sentuhan pendidikan yang diberikan ayahnya. bahkan, dalam al-Quran tidak ada satu pun dialog antara anak dan ibu bapa mewakili ibu. yang ada mengenai dialog anak dengan ayahnya, hatta dalam kisah nabi yang sejak kecil diasuh oleh ibunya, iaitu Nabi Ismail a.s"

(xxi)

--

"buku ini kian menegaskan tidak ada pemisahan antara keluarga dan dakwah, sekaligus menjawab pertanyaan, "mana yang lebih penting, dakwah untuk umat ataupun membina keluarga?" sesungguhnya yang meletakkan dasar pergerakan dakwah moden seperti Hasan al-Banna telah memberikan contoh bahawa yang merasakan sentuhan pertama nilai pendidikan seseorang da'ie, justeru orang terdekatnya. jika dia seorang ayah, maka isteri dan anak-anaknyalah yang akan merasakan sentuhan pertama. begitu juga apabila dia seorang ibu"

(xiii)

--

"yang membentuk mereka semuanya, termasuk saya, adalah bapa mereka. saya hanya pelaksana sahaja. ibarat membina bangunan, suami saya yang membina kerangkanya, lalu saya mengisinya" - ibu wirianingsih

(xv)

--

"apa yang dilakukan oleh al-Banna sebagai tahap utama dalam mendidik anak-anak yang akan menjadi keturunannya, dimulai sejak proses memilih wanita yang bakal mendampingi hidupnya"

hlmn. 21

--

"ketika itu, nenek menyukai ibuku untuk dijodohkan dengan ayahku, kerana nenek melihat meskipun keadaan keluarga ibuku sangat sederhana, tetapi mereka berdikari mengadakan keperluan mereka bahkan mereka juga memasak untuk para pekerja yang ada"

hlmn. 22

--

"adanya visi yang betul dan kemampuan aplikasi sikap yang baik, adalah syarat utama dalam mendidik keluarga. apabila seseorang tidak memiliki visi dalam hidupnya, dia seperti seorang buta yang tidak memiliki petunjuk. atau, seperti musafir di tengah padang pasir tanpa memegang carta dan alat petunjuk apapun. apabila seseorang tidak mampu berperilaku yang baik, maka visi yang dimilikinya hanya bermakna ilmu teori semata-mata ataupun sekadar falsafah yang jauh dari kenyataan. dan kedua-dua keadaan itu tidak memberikan apa-apa manfaatnya"

hlmn. 29

--

"sesungguhnya tubuhmu mempunyai hak, keluargamu juga mempunyai hak"

hlmn. 30

--

"sikap pertama seorang ayah yang berjaya adalah apabila dia mempunyai carta perhatian yang menyeluruh terhadap anak-anaknya. sungguhpun begitu, sikap ini semakin hilang daripada kebanyakan para ayah. bahkan tidak sedikit para da'ie yang kurang memiliki perhatian terhadap perkembangan anak-anaknya dengan alasan sibuk dan perlu menumpukan lebih perhatiannya sepanjang hari di luar rumah untuk berdakwah"

hlmn. 31

--

"jika seorang anak merasa bahawa dirinya adalah orang nombor satu dalam hati orang tuanya, itu adalah modal utama kejayaan dalam mendidik mereka"

hlmn. 34

--

"kami begitu menyayangi ayah, sangat menyayanginya. kami mentaati keinginannya kerana kami sayang kepadanya, bukan kerana kami takut kepadanya"

hlmn. 35

--

"pendidikan dan tarbiah dihasilkan daripada berbagai-bagai cara. seperti masakan yang menggunakan sejumlah adunan dengan bahan-bahan yang baik. itu akan memberikan hasil yang bersih. yang penting, bukan pada jumlah wang belanja itu besar atau kecil, tapi yang penting adalah pola pendidikan dan pembinaan yang dilakukan di rumah"

hlmn. 39

--

"memberikan arahan dan nasihat, perintah, serta larangan, tidak menjamin kejayaan dalam mendidik anak-anak kecil. bahkan umumnya, langkah seperti itu menyebabkan mereka menolak dan jiwa mereka menjadi sempit untuk melakukan sesuatu yang mereka inginkan. cara yang baik dan benar adalah dengan menanamkan nilai dalam jiwa melalui cara yang lebih praktikal. pimpin tangan si anak untuk melakukan sesuatu sekaligus menerangkan caranya, dengan penuh kasih sayang, berhati-hati, serta latihan untuk menerapkannya"

hlmn. 41

--

selain teori, buku ini memaparkan praktikalnya juga. antaranya, method yang hasan al-banna gunakan dalam mendidik anak. contoh; merotan anak dengan hukuman paling berat baginya (menggunakan pembaris, dan mengetuk di telapak kaki tanpa sakit sedikitpun), tidak terlalu berterus-terang dalam menegur anak yang mencintai komik, bahkan mengajarkan anaknya mencintai buku yang lebih baik dengan membelikan buku sirah dan lain-lain untuk anaknya, deal dengan si anak dalam menyambut tetamu dan lain-lain. 

selain buku ini terkhusus menghurai peranan seorang ayah (yang mana, belum pernah saya jumpa dan baca di mana-mana lagi), buku ini pun kecil, nipis, tapi padat dan praktikal, mashaAllah!

cinta di rumah hasan al-banna;
selamat membaca! ;)